Menteri Pertahanan Amerika Serikat menyebut kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai sebuah kelompok yang terorganisir dan memiliki peralatan militer. Chuck Hagel mengatakan hal itu dua hari setelah publikasi video pemenggalan kepala James Foley, seorang wartawan AS oleh militan ISIS.
Menurut Hagel, untuk membasmi ISIS diperlukan perang panjang. Ia mengatakan, ancaman kelompok teroris tersebut bukan sebuah ancaman jangka pendek, sebab ISIS sangat lebih terorganisir dari sekedar sebuah kelompok teroris. Kelompok ini, kata Hagel, didukung dan dipersenjatai dengan sangat baik, serta memiliki ideologi sendiri.
Peristiwa-peristiwa selama beberapa bulan terakhir di Irak menunjukkan bahwa kekuatan finansial dan persenjataan ISIS melebihi kemampuan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok teroris lainnya. Militan ISIS hingga sekarang masih menguasai sebagian wilayah penting di Suriah dan Irak, dan mengklaim telah membentuk sebuah pemerintahan.
Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin dalam waktu singkat kelompok teroris tersebut berubah menjadi sebuah kekuatan yang menakutkan dan mampu mengancam kota-kota penting Irak dan bahkan memenggal kepala seorang wartawan AS di depan kamera?
Cerita tentang ISIS kembali ke masa tiga tahun lalu ketika Barat berusaha menggulingkan pemerintahan sah Presiden Suriah Bashar al-Assad dengan memanfaatkan kebangkitan rakyat di dunia Arab. Untuk mencapai tujuan tersebut, Barat memberikan dukungan politik, keuangan dan senjata kepada setiap kelompok yang memerangi pemerintah Damaskus.
Pada awalnya, Barat tidak menganggap penting tentang tindakan dan perilaku kelompok-kelompok anti-Assad yang berusaha mencapai ambisi mereka dengan cara-cara terburuk dan mengerikan. Oleh karena itu, publikasi video seorang militan yang memakan jantung tentara Suriah, video pemenggalan kepala warga sipil dan kejahatan-kejahatan mengerikan lainnya tidak dianggap penting oleh Barat, bahkan tewasnya seorang tentara Inggris yang baru kembali dari Afghanistan di jalan kota London di tangan seorang ektrimis, tidak mempengaruhi cara pandang Barat tentang bahaya munculnya teroris generasi baru
Dengan demikan, wajar jika para pejabat AS mengatakan bahwa dinas-dinas intelijen seperti CIA tidak mampu atau mungkin tidak ingin mengevaluasi bahaya serangan teroris ISIS yang semakin dekat. Tampaknya “raksasa” yang dikeluarkan AS dari lampu ajaib untuk menaklukkan pemerintah Suriah, sekarang sedang memegang kerah mereka.
Berbagai bukti menunjukkan bahwa sebelum mendeklarasikan namanya, ISIS telah memperoleh dukungan politik, finansial dan senjata dari AS, Barat dan sekutunya di Timur Tengah untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Tanpa dukungan finansial dari sejumlah negara sekutu AS di kawasan, ISIS tidak akan mampu memenuhi biaya besar dalam perang dengan militer Suriah. Kelompok teroris tersebut juga tidak akan mampu merekrut puluhan ribu ektrimis dari seluruh dunia.
Perampasan berbagai kota di Suriah dan pendudukan atas kota-kota itu dalam waktu lama tidak akan dapat dilakukan ISIS tanpa dukungan persenjataan dari negara-negara Barat dan sekutunya di kawasan.
Sebenarnya, jika AS mengendalikan dan mencegah ISIS supaya tidak menguasai kota Mosul di Irak, maka kelompok teororis itu tidak akan memiliki peralatan militer modern seperti saat ini, bahkan hingga beberapa pekan setelah militan ISIS menguasai kota tersebut, AS belum memberikan respon efektif untuk mencegah kemajuan kelompok teroris itu. Tak diragukan lagi, kesempatan emas tersebut digunakan ISIS sebaik mungkin untuk memperluas operasinya hingga dekat kota Arbil, Kirkuk dan Baghdad.
Perlu diperhatikan bahwa jika permusuhan AS terhadap ISIS hanya sekedar klaim, maka fenomena ISIS akan berubah menjadi sebuah dalih bagi Barat untuk melancarkan perang baru di Timur Tengah dan pembunuhan terhadap warga sipil di kawasan. (IRIB)